Ngga kebayang berapa banyak posting yang harus saya buat kalau cerita cari Professor aja sampai 4 post.
Oke, saya coba persingkat.
Setelah masih percaya ngga percaya ada sosok sensei yang kucuk2 ngundang saya lalu menanggung semua biaya saya ke Osaka, saya urus juga visa dan paspornya. Kali ini saya pakai paspor dinas. Karena memang urusan dinas (sebelumnya pakai paspor hijau, karena punya nya itu, hehe) dan karena pengurusan visa lebih cepat daripada paspor hijau (katanya, sya sih belum bandingkan).
Detail cerita traveling saya nanti dipost terpisah ya.
Singkat cerita selesai lah saya presentasi di Osaka, dengan segala keterbatasan yang ada, saya bertemu dengan banyak Prof & Dr & pakar2 & mudamudi calon pakar dari berbagai negara dan ada orang2 yg dari perusahaan swasta juga. Disana, saya bertemu Prof Miyamoto. Orang yang selama ini hanya saya lihat via layar laptop. Profesor yang jurnal bioenergy dari alganya banyak saya temukan (belum tentu dibaca sih wkwkwk). Tapi saya kenal betul orang ini walau hanya via berita2 dan jurnal2 beliau itu. Dan ternyata Sensei yang mengundang saya adalah junior dari Prof Miyamoto. Dan Prof Miyamoto lah yang melihat saya presentasi di Ha Noi beberapa bulan sebelumnya itu (tanpa saya tahu beliau ada di event itu), kemudian meminta juniornya (sang Sensei) untuk mengundang saya sebagai perwakilan Indonesia. Yup memang di acara itu dari Indonesia hanya saya yang diundang (yang bikin saya jiper karena saya yakin ada banyak Indonesian lain yg juga layak bahkan lebih), kemudian satu teman saya diminta untuk ikut oleh atasan di kantor untuk menemani juga belajar sama2 saya disana.
Wow... ini yang saya bilang skenario Tuhan yang luarbiasa tak terduga. Dari jungkir balik menyiapkan event internasional di kantor, dpt networking, dpt trip untuk event selanjutnya (HaNoi), rejeki dapet trip ke Malaysia sambil belajar (dan pertama kali ke luarnegri), perjuangan nekad presentasi di Bali, Ha Noi, yang saya lakukan dengan pasrah hanya melakukan yang terbaik di tengah segala keterbatasan, mengantar saya ke Osaka, Jepang.
Kemudian, tentu saja, Sensei dan Prof Miyamoto menyambut baik dan membuka pintu lebar2 jika saya ingin jadi student mereka kelak. Subhanallah, saya bahkan tidak sempat mengirim satu email pun perkenalan ke Profesor2 yang namanya sudah saya simpan di file2 saya itu.
Hasil perjuangan ternyata sering dibuat Tuhan belum tentu persis di jalur juang yang kita kira. Sejak ini saya semakin percaya kekuatan Tuhan, dan kekuatan upaya kita untuk dilihat Tuhan lalu diberikan jalan.
Subhanallah...Alhamdulillah..
*Thanks to neng Amalia Istiqlali Adiba yang membantu sekali proses saya dari perkenalan sampai saya tiba dan jalan2 di Osaka.
*Thanks to Dr M. Arif Yudiarto, Dr Irhan Febijanto & Pak Rohmadi Ridlo, M.Eng, Mbak Maharani Dewi Sholikhah, dan Mbak Fina Pitono, karena mendukung penuh secara moril, ilmu dan optimisme.
This University consists of several Departments: Travelling (and Travel Parenting), Bio Energy, Cooking, Philosophy, Japan, Photography, Art, Islam and Entrepreneurship.
Kamis, 25 Oktober 2012
Malam Idul Adha kami
Malam Idul Adha kami lebih biasa dari biasanya.
Kalau biasanya kami kumpul dengan orangtua, sibuk buat ketupat dan nyicip2 opor.
Kali ini kami beraktivitas biasa seperti malam-malam lainnya.
Rakha, mainan, tv, laptop, dan buku bacaan..
Idul Adha kali ini tanpa mudik dan tanpa kedatengan siapa2.
Klasik, tapi beneran deh, ada yang hilang.
Kangen sm ibu dan kakak2 saya, ua saya, terasa kuat sekali smpai bikin saya galau.
Tapi doa tetap terkirim untuk mereka.
Seribut2nya saya dengan mereka, sungguh saya ngga akan menolak berkumpul bersama mereka.
Sampai akhir hayat.
Thanks God for giving them in my life.
Bless them as always.
Make them not galau like me yah, please.
Kalau biasanya kami kumpul dengan orangtua, sibuk buat ketupat dan nyicip2 opor.
Kali ini kami beraktivitas biasa seperti malam-malam lainnya.
Rakha, mainan, tv, laptop, dan buku bacaan..
Idul Adha kali ini tanpa mudik dan tanpa kedatengan siapa2.
Klasik, tapi beneran deh, ada yang hilang.
Kangen sm ibu dan kakak2 saya, ua saya, terasa kuat sekali smpai bikin saya galau.
Tapi doa tetap terkirim untuk mereka.
Seribut2nya saya dengan mereka, sungguh saya ngga akan menolak berkumpul bersama mereka.
Sampai akhir hayat.
Thanks God for giving them in my life.
Bless them as always.
Make them not galau like me yah, please.
Senin, 22 Oktober 2012
My next Android Phone would be : XPERIA ACRO S
This is just almost perfect smartphone ever (for me) !
While my blackberry is in trouble, I am looking for a new android phone, and found XPERIA ACRO S fulfill my need. I need a fast and strong processor, big capacity, nice camera, and strong durability.
Ngga perlu copas disini, cukup klik saja ke source nya ya, semoga rejeki, satu Androidphone ini jadi milik saya. Hehehe
http://www.teknoup.com/review/1009/sony-xperia-acro-s-lt26w/
While my blackberry is in trouble, I am looking for a new android phone, and found XPERIA ACRO S fulfill my need. I need a fast and strong processor, big capacity, nice camera, and strong durability.
Ngga perlu copas disini, cukup klik saja ke source nya ya, semoga rejeki, satu Androidphone ini jadi milik saya. Hehehe
http://www.teknoup.com/review/1009/sony-xperia-acro-s-lt26w/
Petualangan Beasiswa Monbusho (Hunting the Professor 3)
Lanjut kisah setelah saya ditantang presentasi di Bali dengan bahasa Inggris itu. Hmm.. mungkin ini biasa bagi banyak orang, tapi tidak bagi saya. Tidak bagi teman2 seangkatan saya di kantor saya. It's a new thing. It's a breakthrough. Belum pernah terjadi sebelumnya di generasi muda teman2 saya. Tapi inilah saya, sering nekad alias ngga mau melepas kesempatan baik. Jadi, saya sanggupi tantangan itu. Dengan motivasi bisa sambil jalan2 ke Bali dan ketemu orang asing (saya senang sekali membuat pertemanan baru terutama kalau bisa sambil improve bahasa Inggris saya). Dan hingga saat ini, saya sangat bersyukur atas kenekadan saya saat itu, karena the stories continue after that... And it was an amazing scenario by God.
Bolak balik komunikasi, deal lah kami. Saya resmi diundang ke Osaka University, untuk menyampaikan presentasi topic saya, dalam sebuah workshop tingkat internasional lagi, dan kali ini saya diundang langsung oleh Sensei Osaka Univ dan seluruh perjalanan dan akomodasi saya, ditanggung pihak pengundang. That’s why I said this is amazing scenario. Buat Anda atau siapapun, peristiwa seperti ini mungkin biasa. Tapi bagi saya, yang justru sedang mengumpulkan keberanian untuk mengirim email perkenalan ke sensei2. Tapi justru malah diundang oleh seorang sensei senior di Jepang, dibiayai berangkat ke sana untuk 1 minggu, plus dibayar pula (yen pertama saya hasil kerja sendiri). Wow, itu luarbiasa.
Saya
mempersiapkan bahan sebaik-baiknya dengan focus kepada speech saya saat
presentasi. Alhamdulillah setelah revisi-revisi, dan latihan sendiri. Saya
selesai membawakan presentasi di event internasional itu. Terbitlah sertifikat
pertama saya dengan embel-embel presenter di event internasional. Hehe, bagi
yang masih newbie di dunia pekerjaan para engineer dan scientist ini, it means something
for me. Lalu, apa hubungannnya presentasi nekad ini dengan perjuangan beasiswa
saya? Karena presentasi Bali ini mengantarkan saya ke presentasi selanjutnya di
Hanoi. Karena pengalaman di Bali, saya diberi amanat dan diberi kesempatan
untuk uji nyali lagi, presentasi riset kami di ajang internasional, namun
eventnya diselenggarakan di luar negri, yaitu Ha Noi city, Vietnam. Sebelum ke Ha Noi ini, saya juga beruntung
diberi kesempatan ke Malaysia, bersama beberapa teman, untuk belajar di sebuah
workshop tentang Hydrogen Energy. Perjalanan ke Malaysia itu menjadi perjalanan
luar negri saya yang pertama. Nanti akan saya posting travelling stories saya
deh. #makin semangat blogging.
Presentasi
saya di Ha Noi, tidak berjalan sempurna, tapi jauh lebih siap daripada sewaktu
di Bali. Di event ini saya bertemu dengan manusia2 bioenergy di Asia. Manusia2
ini pula yang sebelumnya bertemu di event yang sama tahun 2010. Tahun dimana
kami di Indonesia menjadi penyelenggaranya, dan saya habis-habisan menjadi
pantiia event itu. Saya bisa bilang begitu. Karena tidak setiap event saya bisa
begadang berkali2, lalu berturut2 2 malam pada hari H. Luar biasa. Saat itu
saya hanya pasrah sama Tuhan, tidak mengharap imbalan uang, atau apapun. Hanya
percaya, suatu hari Tuhan kan tunjukkan kenapa nya. Kenapa saya diberi pilihan
diantara dua saat itu. Fight and do the best till the last for the success of
the event, or ignore it, don’t care. Saya sangat bersyukur karena saya pilih
pilihan yang pertama. Plilihan ini juga berkaitan dengan diberinya saya
kesempatan berangkat ke Ha Noi ditahun 2011, untuk event yang sama. Saya
bertemu lagi dengan mereka2 yang tahu hebohnya saya waktu nyiapkan event di
tahun sebelumnya. Alhamdulilah, mereka
inga saya dan mengapresiasi. Hehehe.
Setelah
presentasi di HaNoi saya balik lagi ke cubicle saya. Berkutat dengan daily
jobs, project ini itu. Beberapa minggu berlalu hingga kucuk2 ada email
mengejutkan saya. Di saat saya justru sedang mencari sensei di Jepang, masuk
sebuah email dari orang Indonesia yang kuliah di Jepang yang mengatakan
senseinya tertarik mengundang saya untuk presentasi di workshopnya di Jepang.
Satu di pikiran saya : ni orang salah kirim ngga ya? @_@
Bolak balik komunikasi, deal lah kami. Saya resmi diundang ke Osaka University, untuk menyampaikan presentasi topic saya, dalam sebuah workshop tingkat internasional lagi, dan kali ini saya diundang langsung oleh Sensei Osaka Univ dan seluruh perjalanan dan akomodasi saya, ditanggung pihak pengundang. That’s why I said this is amazing scenario. Buat Anda atau siapapun, peristiwa seperti ini mungkin biasa. Tapi bagi saya, yang justru sedang mengumpulkan keberanian untuk mengirim email perkenalan ke sensei2. Tapi justru malah diundang oleh seorang sensei senior di Jepang, dibiayai berangkat ke sana untuk 1 minggu, plus dibayar pula (yen pertama saya hasil kerja sendiri). Wow, itu luarbiasa.
Petualangan Beasiswa Monbusho 2 (Hunting the Professor 2)
Terakhir tulisan saya tentang Hunting the Professor : http://univolife.blogspot.com/2011/03/hunting-professor.html. Wow, sudah berlalu begitu lama. Tentu saja banyak yang terjadi.
Saat itu saya memang cari2 profesor, tapi ujung2nya lebih banyak hanya browsing. Ada direktori yang saya buat, tp berakhir sampai disitu. Tidak ada satu email pun yang saya kirim ke Prof2 itu. Lagi2 alasan klasik, ngga sempat. Hmm.. lebih tepatnya ngga benar2 disempatkan sebenarnya. Tahun 2011 itu saya akhirnya tetap jadi mengajukan aplikasi ke Kedutaan Besar, tapi saya siapkan semua berkas aplikasi itu dalam 1 hari sebelum deadline. Saya bahkan memasukkan itu berkas titip ke satpam Kedubes karena saya menyerahkan tepat di jam terakhir penerimaan. Jam 4 sore. Hhh..... kacau. Jelas mustahil saya dipanggil tes selanjutnya.
Di tulisan itu, saya menulis negaranya misterius. J dan J. Saya buka aja sekarang, Jepang dan Jerman. Sebenarnya jaman kuliah saya ingin sekali ke Jerman. Alasannya, ga jelas juga. Tapi salahsatunya karena Jerman di Eropa dan tidak berbahasa Inggris, lalu aksen ngomongnya keren. So what? Yah begitulah hasrat jaman kuliah. Satu tahun bekerja, semakin jelas bagi saya kalau Jepang seharusnya jadi prioritas. Karena pekerjaan project saya 99% dengan orang Jepang dan senior saya banyak sekali lulusan Jepang. Saya membayangkan akan lebih membantu saya kelak melanjutkan pekerjaan jika saya pernah tinggal dan studi di negara itu. Sembari tentu, mengembangkan networking. Kali ini, alasan memilih negara lebih "dewasa". Itupun, masih dihiasi dengan berminggu-minggu galau, apakah iya mau apply Jepang (dengan resiko diterima), dan harus mau sekolah disana dengan bahasanya yang asing dan tulisannya yang lebih mirip kaligrafi itu.
Sembari galau, saya terus coba browsing2 cari2 Profesor. Minat saya (pekerjaan saya tepatnya), di Bioenergi. Kalau ditanya minat, minat saya di musik, soalnya. #gubrak. Lalu saya ubek2 lah itu data Prof di bidang Bioenergi. Saya tertarik Bioenergi dari mikroalga. Kenapa? Karena teknologi baru, mudah tumbuh, warna, dan yang terpenting : bentuknya lucu2 unik2, dan ukurannya lebih gede daripada bakteri. . #heeuu....
Ketemulah saya beberapa Sensei. Salahsatunya Prof Miyamoto di Osaka Univ. Tapi ya begitu, dosa lama terulang. Semua Sensei2 jenius itu saya simpen doang datanya di file laptop saya. Hingga kemudian Tuhan turunkan skenario indah untuk saya. Tuhan uji saya dengan tantangan. Lepas dari pergelutan saya dalam beasiswa, Tuhan kasi saya tantangan untuk mengambil kesempatan presentasi dengan bahasa Inggris, di Bali, di sebuah event internasional. Lhoo... apa hubungannya dengan petualangan beasiswa saya? Hmm... disini lah cantiknya skenario Tuhan... *lanjut di post selanjutnya ya. Biar disini ga kepanjangan. #apa sih
Petualangan Beasiswa Monbusho 1 (Kenapa saya HARUS studi lanjut di Luar Negeri)
Judulnya mungkin sebetulnya kurang tepat, pakai angka 1. Karena kaitan dengan perjuangan memperoleh beasiswa ini sudah pernah aku posting sebelumnya. Nanti rencananya mau dibuat dua versi bahasa, Indonesia dan Inggris. Supaya tulisan ini bisa dimengerti non bahasa Indonesia'ers. =p (Caileeee kayak bakal sempat aja gkgkgk).
Sebetulnya cerita perjuangan beasiswa ini mirip skenario film bagi saya. It's so unpredictable, amazing scenario by God. Diawali dari ambisi "lebay" oleh seorang anak kampung dengan keterbatasan finansial yg belum pernah ke luar negri, yang bahasa inggrisnya pas2an, prestasi juga ga tinggi2 amat, apalagi scientific skill alias kualitas otak kayanya standar tapi ngotot pengen dapet beasiswa sekolah di luar negri. Motivasinya banyak (termasuk pengalaman global, tantangan yang lebih tinggi, networking, dll), tapi satu yang utama :
Karena sekolah master di dalam negri, walaupun dengan beasiswa, akan menambah pengeluaran. Kenapa?
Karena beasiswa dalam negri sejauh ini rata2 hanya mencakup biaya sekolah dan sedikit untuk biaya hidup. Sedangkan kuliah dan pertemuan2 dgn dosen pembimbing itu perlu ongkos, perlu biaya susun thesis, apalagi dana alat dan bahan laboratorium (berhubung bidang saya sains) yang tentu jauh dibanding biaya hidup yang diberikan dari beasiswa dagri.
Sedangkan kemudian sebagai aparatur sipil negara (nama baru dari PNS), saya sebagai student hanya akan menerima gaji pokok, alias tidak aktif bekerja sehingga tunjangan2 atau honor proyek tidak bisa saya terima (tp kabarnya ini sedang diperdebatkan (*untuk remunerasi)). Artinya, malah menjadi tantangan finansial bagi saya, dan itu tampak berat. Sehingga, sekolah di LN yang ditunjang penuh oleh beasiswa memungkinkan saya bisa membiaya kuliah, hidup saya, tanpa mengganggu penghasilan saya yang bisa saya alokasikan untuk biaya anak saya. Jadi alasan paling mendasar, adalah .. yes, tidak akan saya pungkiri adalah : financial. Tentu, alasan ini tidak akan begitu kuat membuat saya bertahan berjuang memperoleh beasiswa selama 2 tahun ini, jika tidak didukung alasan2 lain yang juga penting bagi saya.
Lalu, kalau kemudian saya ditanya lagi : Kenapa saya harus studi lanjut? Sedangkan saya seorang ibu yang resikonya harus meninggalkan anak saat studi, sedangkan sekolah tidak menjamin kesuksesan? Ini juga jelas ada alasannya. Karena saya mau berkembang. Saya mau hidup saya semakin lebih baik dari hari ke hari. Artinya? salahsatunya adalah karir saya. Karir saya di dunia engineering, sains, dimana pekerjaan memerlukan skill, knowledge, untuk mencapai prestasi lebih baik. Kenapa "sok" pengen berkarir baik begitu? Karena suksesnya saya bukan semata untuk saya. Tapi untuk saya persembahkan untuk ibu saya, untuk menyokong beliau dengan lebih baik. Untuk masa depan anak saya. Menyiapkan dan menumbuhkan ia dengan sebaik2nya keadaan.
Dalam karir saya, untuk mengembangkan project2, kerjasama dengan berbagai pihak, sudah saya rasakan betul, basic ilmu saya sebagai sarjana belum memadai. Yup, saya bukan tipe super yang bisa upgrade diri saya begitu saja seperti sulap, tanpa sekolah. Saya percaya sekolah akan memberi saya ilmu, networking, dan skill yang kelak akan berguna. Boleh kan, optimis?
Lalu alasan yang sangat pribadi, yang debatable mungkin. Motivasi kuat saya (yang sering menjadi motivasi saya sejak kecil), adalah membuktikan pada keluarga besar, bahwa saya berhasil mencapai suatu prestasi. Saya, anak yatim sejak umur 9 tahun, yang membiayai sekolah dari bantuan orang2 dan hasil jualan minyak tanah, dan hasil kerja ibu saya sebagai asisten perias pengantin, dan pensiun papa yang tentu terbatas jumlahnya. Saya, yang tidak mengenyam nikmatnya hidup berkecukupan, yang baru tahu nikmatnya kasur dan AC hotel berbintang hanya kalau diajak nginap oleh sanak saudara ibu saya. Yang naik mobil pribadi itu hanya kalau numpang orang lain, itupun joknya sering saya elus2 saking kagumnya. Yang tinggal di rumah petak 2 kamar bersama ibu dan 2 kakak laki2 saya. Yang bukan anak siapa2 atau ponakan siapa2 sehingga memperoleh fasilitas karenanya. Tapi saya maju, saya sekolah dan berusaha menjadi anak baik. Jadi orang baik. Berprestasi sebaik2nya sesuai jalur saya berada. Saya ingin selalu buktikan dan buktikan terus bahwa saya dari keluarga yang sering dipandang sebelah mata karena keterbatasan kami, mampu membelalakkan mata karena mencapai sesuatu yang baik. Yang bahkan tidak/belum dicapai orang yang keadaannya lebih baik dari saya di awalnya.
"Saya ingin selalu tunjukkan bahwa keterbatasan saya tidak membatasi saya."
by Syaftika, 22 Oktober 2012
Karena sekolah master di dalam negri, walaupun dengan beasiswa, akan menambah pengeluaran. Kenapa?
Karena beasiswa dalam negri sejauh ini rata2 hanya mencakup biaya sekolah dan sedikit untuk biaya hidup. Sedangkan kuliah dan pertemuan2 dgn dosen pembimbing itu perlu ongkos, perlu biaya susun thesis, apalagi dana alat dan bahan laboratorium (berhubung bidang saya sains) yang tentu jauh dibanding biaya hidup yang diberikan dari beasiswa dagri.
Sedangkan kemudian sebagai aparatur sipil negara (nama baru dari PNS), saya sebagai student hanya akan menerima gaji pokok, alias tidak aktif bekerja sehingga tunjangan2 atau honor proyek tidak bisa saya terima (tp kabarnya ini sedang diperdebatkan (*untuk remunerasi)). Artinya, malah menjadi tantangan finansial bagi saya, dan itu tampak berat. Sehingga, sekolah di LN yang ditunjang penuh oleh beasiswa memungkinkan saya bisa membiaya kuliah, hidup saya, tanpa mengganggu penghasilan saya yang bisa saya alokasikan untuk biaya anak saya. Jadi alasan paling mendasar, adalah .. yes, tidak akan saya pungkiri adalah : financial. Tentu, alasan ini tidak akan begitu kuat membuat saya bertahan berjuang memperoleh beasiswa selama 2 tahun ini, jika tidak didukung alasan2 lain yang juga penting bagi saya.
Lalu, kalau kemudian saya ditanya lagi : Kenapa saya harus studi lanjut? Sedangkan saya seorang ibu yang resikonya harus meninggalkan anak saat studi, sedangkan sekolah tidak menjamin kesuksesan? Ini juga jelas ada alasannya. Karena saya mau berkembang. Saya mau hidup saya semakin lebih baik dari hari ke hari. Artinya? salahsatunya adalah karir saya. Karir saya di dunia engineering, sains, dimana pekerjaan memerlukan skill, knowledge, untuk mencapai prestasi lebih baik. Kenapa "sok" pengen berkarir baik begitu? Karena suksesnya saya bukan semata untuk saya. Tapi untuk saya persembahkan untuk ibu saya, untuk menyokong beliau dengan lebih baik. Untuk masa depan anak saya. Menyiapkan dan menumbuhkan ia dengan sebaik2nya keadaan.
Dalam karir saya, untuk mengembangkan project2, kerjasama dengan berbagai pihak, sudah saya rasakan betul, basic ilmu saya sebagai sarjana belum memadai. Yup, saya bukan tipe super yang bisa upgrade diri saya begitu saja seperti sulap, tanpa sekolah. Saya percaya sekolah akan memberi saya ilmu, networking, dan skill yang kelak akan berguna. Boleh kan, optimis?
Lalu alasan yang sangat pribadi, yang debatable mungkin. Motivasi kuat saya (yang sering menjadi motivasi saya sejak kecil), adalah membuktikan pada keluarga besar, bahwa saya berhasil mencapai suatu prestasi. Saya, anak yatim sejak umur 9 tahun, yang membiayai sekolah dari bantuan orang2 dan hasil jualan minyak tanah, dan hasil kerja ibu saya sebagai asisten perias pengantin, dan pensiun papa yang tentu terbatas jumlahnya. Saya, yang tidak mengenyam nikmatnya hidup berkecukupan, yang baru tahu nikmatnya kasur dan AC hotel berbintang hanya kalau diajak nginap oleh sanak saudara ibu saya. Yang naik mobil pribadi itu hanya kalau numpang orang lain, itupun joknya sering saya elus2 saking kagumnya. Yang tinggal di rumah petak 2 kamar bersama ibu dan 2 kakak laki2 saya. Yang bukan anak siapa2 atau ponakan siapa2 sehingga memperoleh fasilitas karenanya. Tapi saya maju, saya sekolah dan berusaha menjadi anak baik. Jadi orang baik. Berprestasi sebaik2nya sesuai jalur saya berada. Saya ingin selalu buktikan dan buktikan terus bahwa saya dari keluarga yang sering dipandang sebelah mata karena keterbatasan kami, mampu membelalakkan mata karena mencapai sesuatu yang baik. Yang bahkan tidak/belum dicapai orang yang keadaannya lebih baik dari saya di awalnya.
"Saya ingin selalu tunjukkan bahwa keterbatasan saya tidak membatasi saya."
by Syaftika, 22 Oktober 2012
Minggu, 21 Oktober 2012
My awkward part of life
There is so much awkward part of life
Those moments are when it is contrary with logic and ordinary laws.
I do, have:
When we say we don’t have time to talk, while we have talks much topic
When we say we do not share burden each other, while we cooperate many times
When we say we can’t discuss about it, while we commenting and debate even in politics
When we say we don’t have enough time, while we lie down and watching tv for hours
I know why.
Because we can avoid those we don’t like.
But then it will cause bigger problems.
And again, we are very understand this facts, but then we keep avoid and avoid it for years.
Now I prefer to type it here in silent, than talk about it to you, who sit near me.
What awkward life.
Those moments are when it is contrary with logic and ordinary laws.
I do, have:
When we say we don’t have time to talk, while we have talks much topic
When we say we do not share burden each other, while we cooperate many times
When we say we can’t discuss about it, while we commenting and debate even in politics
When we say we don’t have enough time, while we lie down and watching tv for hours
I know why.
Because we can avoid those we don’t like.
But then it will cause bigger problems.
And again, we are very understand this facts, but then we keep avoid and avoid it for years.
Now I prefer to type it here in silent, than talk about it to you, who sit near me.
What awkward life.
It is so easy for you
My FB status today :
It is so easy to hate you.
It is so easy to forget it.
But then the easiest is to remember it again.
I hope it is easy to change it to be difficult.
-----
It is so easy for you to hurt me.
It is so easy for you to repeat mistakes.
It is so easy for you to ‘not say sorry'
It is so easy for you to show your anger
It is so easy for you to ‘not care my anger’
It is so easy for you to blame others especially me
It is so easy for you to pretend nothing happen
It is so easy for you to ignore my sadness
It is so easy for you to stay with me
While I need so much power to keep that.
It is so easy to hate you.
It is so easy to forget it.
But then the easiest is to remember it again.
I hope it is easy to change it to be difficult.
-----
It is so easy for you to hurt me.
It is so easy for you to repeat mistakes.
It is so easy for you to ‘not say sorry'
It is so easy for you to show your anger
It is so easy for you to ‘not care my anger’
It is so easy for you to blame others especially me
It is so easy for you to pretend nothing happen
It is so easy for you to ignore my sadness
It is so easy for you to stay with me
While I need so much power to keep that.
Sabtu, 13 Oktober 2012
Wanita Pejuang Hidup
Saya sangat mengenal seorang wanita, dan beberapa wanita lainnya yang serupa.
Tatapan matanya menyiratkan lelah juga kasih sayang
Senyumnya menunjukkan bahagia sekaligus penutup luka
Tegap badannya tanda kekuatan, juga menguatkan kelemahan
Sentuhan jemarinya melembutkan kadang menegur kesalahan
Yakin langkahnya karena tekad bukan karena kepastian tercapainya tujuan
Cantik kulitnya namun juga kan usang dimakan waktu dan kisah hidup
Hanya satu yang tak tampak, yaitu hatinya
Tak ada yang tahu sebenar-benar hatinya ceria atau terluka
Tak ada yang tahu sebenar-benar hatinya berbunga atau retak
Hanya antara dia, Tuhan dan malaikat, yang menemani hari-hari perjuangannya
Menjalani hidup, yang tidak mudah, tapi tak layak disiasiakan
Tujuan wanita itu hanya satu, menjadi pejuang hidup, dan bukan pecundang.
Menjadi kuat karena berlatih, menjadi mampu karena belajar, menjadi berhasil karena tekad dan perjalanan dari satu kisah ke kisah lainnya.
Bukan menjadi benalu, bukan menadah tangan menunggu pemberian, bukan menggantungkan hidup pada hidup orang lain.
Karena tanpa perjuangan, ia merasa tidak berada dalam kehidupan.
Tatapan matanya menyiratkan lelah juga kasih sayang
Senyumnya menunjukkan bahagia sekaligus penutup luka
Tegap badannya tanda kekuatan, juga menguatkan kelemahan
Sentuhan jemarinya melembutkan kadang menegur kesalahan
Yakin langkahnya karena tekad bukan karena kepastian tercapainya tujuan
Cantik kulitnya namun juga kan usang dimakan waktu dan kisah hidup
Hanya satu yang tak tampak, yaitu hatinya
Tak ada yang tahu sebenar-benar hatinya ceria atau terluka
Tak ada yang tahu sebenar-benar hatinya berbunga atau retak
Hanya antara dia, Tuhan dan malaikat, yang menemani hari-hari perjuangannya
Menjalani hidup, yang tidak mudah, tapi tak layak disiasiakan
Tujuan wanita itu hanya satu, menjadi pejuang hidup, dan bukan pecundang.
Menjadi kuat karena berlatih, menjadi mampu karena belajar, menjadi berhasil karena tekad dan perjalanan dari satu kisah ke kisah lainnya.
Bukan menjadi benalu, bukan menadah tangan menunggu pemberian, bukan menggantungkan hidup pada hidup orang lain.
Karena tanpa perjuangan, ia merasa tidak berada dalam kehidupan.
Luapan Kegelisahan
Judulnya lebay.
Tapi cuma itu yang terpikir.
Penyakit lama saya mengabaikan blog lagi dan lagi setelah sempat taubat mau aktif, kumat dalam beberapa bulan ini.
Bayangkan, post terakhir saya bulan Februari 2012.
Ada apa gerangan sebenarnya?
Kenapa dulu jaman ABG bisa konsisten ngisi buku diary?
Apakah karena faktor usia?
Memangnya kenapa ? jadi pikun? ah belum separah itu.
Lalu apa? Karena sudah punya anak? Tapi masa' anak saya yang disalahin.
Oooh, karena kesibukan. Benarkah? rasanya ritme tidak jauh berubah, selalu saja ada yang harus diselesaikan.
Tapi kemudian hati ini gelisah.
Tenggelam dalam rutinitas sungguh bukan karakter saya.
Saya suka keteraturan tapi tidak suka monoton.
Saya suka menyimpan rahasia dan hasrat (termasuk hasrat menulis), tapi lama2 gelisah juga.
Jadi, maaf ya Blog.
Baru sekarang kujamah lagi dirimu.
Jangan marah ya Blog.
Karena dirimu justru kan kujadikan tempat ku marah2. Atau emosi lainnya.
Kujadikan engkau rekam jejak hidupku. Tak ubahnya diaryku jaman ABG itu.
Cuma bedanya sekarang ngga pakai gembok atau pita. Sekarang namanya password.
Dan sekarang, diaryku kutunjukkan ke dunia.
Kubagi dengan milyaran pasang mata (padahal blog nya belum laku).
Yah, niatnya hanya mengkonversi pikiran menjadi kata-kata.
Menggunakan energi hati, dan jari jemari.
Menciptakan karya, jika layak dihargai.
Melahirkan sekedar cerita, jika tidak bisa disebut karya sastra.
Tak apa, yang penting kegelisahan ini pudar..
Berganti kepuasan yang nyaman..
Hmm... Welcome me back, my Blog.
Tapi cuma itu yang terpikir.
Penyakit lama saya mengabaikan blog lagi dan lagi setelah sempat taubat mau aktif, kumat dalam beberapa bulan ini.
Bayangkan, post terakhir saya bulan Februari 2012.
Ada apa gerangan sebenarnya?
Kenapa dulu jaman ABG bisa konsisten ngisi buku diary?
Apakah karena faktor usia?
Memangnya kenapa ? jadi pikun? ah belum separah itu.
Lalu apa? Karena sudah punya anak? Tapi masa' anak saya yang disalahin.
Oooh, karena kesibukan. Benarkah? rasanya ritme tidak jauh berubah, selalu saja ada yang harus diselesaikan.
Tapi kemudian hati ini gelisah.
Tenggelam dalam rutinitas sungguh bukan karakter saya.
Saya suka keteraturan tapi tidak suka monoton.
Saya suka menyimpan rahasia dan hasrat (termasuk hasrat menulis), tapi lama2 gelisah juga.
Jadi, maaf ya Blog.
Baru sekarang kujamah lagi dirimu.
Jangan marah ya Blog.
Karena dirimu justru kan kujadikan tempat ku marah2. Atau emosi lainnya.
Kujadikan engkau rekam jejak hidupku. Tak ubahnya diaryku jaman ABG itu.
Cuma bedanya sekarang ngga pakai gembok atau pita. Sekarang namanya password.
Dan sekarang, diaryku kutunjukkan ke dunia.
Kubagi dengan milyaran pasang mata (padahal blog nya belum laku).
Yah, niatnya hanya mengkonversi pikiran menjadi kata-kata.
Menggunakan energi hati, dan jari jemari.
Menciptakan karya, jika layak dihargai.
Melahirkan sekedar cerita, jika tidak bisa disebut karya sastra.
Tak apa, yang penting kegelisahan ini pudar..
Berganti kepuasan yang nyaman..
Hmm... Welcome me back, my Blog.
Selasa, 28 Februari 2012
Ucapan Terimakasih_2
2. Terimakasih Papa
Ucapan terimakasih selanjutnya aku sampaikan untuk papaku. Ayahanda yang kini berbaring tenang di sisi Nya.
Terimakasih Papa,
karena telah memutuskan menjadi pendamping ibunda sepanjang hayatmu
cinta kalian, melahirkan kami dalam buaian kasih sayang
Terimakasih Papa,
karena telah berjuang menghidupi kami, berkarya sepanjang usiamu,
berjasa pada orang2 yang kau temui.
Terimakasih Papa,
karena ketegasanmu membentuk kekuatan karakter positif kami
keteguhanmu akan tegaknya kejujuran, dan idealisme mu
mendahulukan yang seharusnya, membuat kami malu berbuat dzolim
Terimakasih Papa,
karena telah melimpahkan upayamu untuk membahagiakan kami
menyingkirkan ego-mu untuk sekedar menyenangkan diri sendiri
Yang termanis, papa
terimakasih telah mengukir kisah emas dalam sekejap kebersamaan kita di dunia
tahun2 yang indah dalam masa kecil dan remaja kami
engkau kami simpan dalam hati terdalam,
teladan kami, ayahanda tercinta
semoga Allah melapangkan jalanmu menuju surga
semoga Allah mempertemukan kita kembali di sana.
Amin
Ucapan terimakasih selanjutnya aku sampaikan untuk papaku. Ayahanda yang kini berbaring tenang di sisi Nya.
Terimakasih Papa,
karena telah memutuskan menjadi pendamping ibunda sepanjang hayatmu
cinta kalian, melahirkan kami dalam buaian kasih sayang
Terimakasih Papa,
karena telah berjuang menghidupi kami, berkarya sepanjang usiamu,
berjasa pada orang2 yang kau temui.
Terimakasih Papa,
karena ketegasanmu membentuk kekuatan karakter positif kami
keteguhanmu akan tegaknya kejujuran, dan idealisme mu
mendahulukan yang seharusnya, membuat kami malu berbuat dzolim
Terimakasih Papa,
karena telah melimpahkan upayamu untuk membahagiakan kami
menyingkirkan ego-mu untuk sekedar menyenangkan diri sendiri
Yang termanis, papa
terimakasih telah mengukir kisah emas dalam sekejap kebersamaan kita di dunia
tahun2 yang indah dalam masa kecil dan remaja kami
engkau kami simpan dalam hati terdalam,
teladan kami, ayahanda tercinta
semoga Allah melapangkan jalanmu menuju surga
semoga Allah mempertemukan kita kembali di sana.
Amin
Malam ini_110512
Udara panas menyelimuti. Nyamuk mengunjungi. Monitor kedip2 sendiri. Mata minta berhenti. Jari terus menari. Demi siapa? Demi mereka penggunjing sejati? Bukan. Ini demi menghindari penyesalan menenggelamkan diri. Demi melahirkan semangat perbaikan mewujudkan mimpi. Demi nama seharum kasturi, saat waktunya berhenti dari semua hal duniawi, alias mati.
dedicated to : Isal my friend. Thanks for reminding me to produce something using my right brain. Even I don't choose which brain to used to make this. =)
dedicated to : Isal my friend. Thanks for reminding me to produce something using my right brain. Even I don't choose which brain to used to make this. =)
Masa Lalu
Masa kini, adalah nama agar ada yang disebut masa lalu
Masa depan, adalah nama agar ada yang disebut masa kini
Berkali2 kulalui masa lalu, masa kini, masa depan
Tak pernah kurindukan masa lalu serindu diriku malam ini
Apa karena diri ini sudah begitu renta?
Apa karena diri ini tak pernah merenung sebelumnya?
Apa ya?
Begitu rindu hingga kubuka album2 itu
Kurasakan kembali gelora muda yg begitu antusias menjalani hari
Kurasakan kembali persahabatan yg penuh kasih sayang, dan kepedulian
Kurasakan kembali hasrat belajar yg menggebu
Kurasakan kembali kebebasan terbatas yang membahagiakan
Hai masa lalu.
Dosakah jika kurindukan engkau?
Masa depan, adalah nama agar ada yang disebut masa kini
Berkali2 kulalui masa lalu, masa kini, masa depan
Tak pernah kurindukan masa lalu serindu diriku malam ini
Apa karena diri ini sudah begitu renta?
Apa karena diri ini tak pernah merenung sebelumnya?
Apa ya?
Begitu rindu hingga kubuka album2 itu
Kurasakan kembali gelora muda yg begitu antusias menjalani hari
Kurasakan kembali persahabatan yg penuh kasih sayang, dan kepedulian
Kurasakan kembali hasrat belajar yg menggebu
Kurasakan kembali kebebasan terbatas yang membahagiakan
Hai masa lalu.
Dosakah jika kurindukan engkau?
Setiap
Setiap kubuka mata, lelapmu menjadi pandangan pertamaku
Setiap kulangkahkan kakiku pergi, tangismu menemani perjalananku
Setiap kukembali, tawamu menghapuskan sejuta penat di bahuku
Setiap kututup mata, senyummu menghiasi mimpiku
dan saat nanti kututup mata yang terakhir kalinya
kuharap engkau pun tetap tersenyum seperti itu
karena senyummu, menentramkan hatiku,
anakku Rakha...
Setiap kulangkahkan kakiku pergi, tangismu menemani perjalananku
Setiap kukembali, tawamu menghapuskan sejuta penat di bahuku
Setiap kututup mata, senyummu menghiasi mimpiku
dan saat nanti kututup mata yang terakhir kalinya
kuharap engkau pun tetap tersenyum seperti itu
karena senyummu, menentramkan hatiku,
anakku Rakha...
Kepada Cinta (katanya)
Dear Cinta,
Aku panggil kau Cinta, karena katanya itulah namamu.
Saat kutanyakan kenapa namamu Cinta, katanya begitulah Cinta dinamai
Saat kutanyakan kapan kau dinamai Cinta, katanya sejak kau hadir di hidupku
Saat kutanyakan kenapa kau hadir di hidupku, katanya karena aku dianugerahi
Saat kutanyakan layakkah aku dianugerahi, katanya karena akulah yg meminta
Saat kutanyakan bagaimana kutahu kaulah jawaban dari permintaanku,
katanya karena hanya Cinta-lah yang datang padaku di saat ku memintanya.
Sampai kini, masih banyak pertanyaan dariku untuk Nya.
Masih banyak yang belum kupahami jawabannya.
Bagaimanapun, harus kupelihara apa yg sudah (katanya) dianugerahi untukku.
Baiklah, karena kalau tidak, mungkin aku jadi durhaka
Karena tak mensyukuri anugerahNya
Walau masih tak kuyakini, benarkah namamu Cinta.
Aku panggil kau Cinta, karena katanya itulah namamu.
Saat kutanyakan kenapa namamu Cinta, katanya begitulah Cinta dinamai
Saat kutanyakan kapan kau dinamai Cinta, katanya sejak kau hadir di hidupku
Saat kutanyakan kenapa kau hadir di hidupku, katanya karena aku dianugerahi
Saat kutanyakan layakkah aku dianugerahi, katanya karena akulah yg meminta
Saat kutanyakan bagaimana kutahu kaulah jawaban dari permintaanku,
katanya karena hanya Cinta-lah yang datang padaku di saat ku memintanya.
Sampai kini, masih banyak pertanyaan dariku untuk Nya.
Masih banyak yang belum kupahami jawabannya.
Bagaimanapun, harus kupelihara apa yg sudah (katanya) dianugerahi untukku.
Baiklah, karena kalau tidak, mungkin aku jadi durhaka
Karena tak mensyukuri anugerahNya
Walau masih tak kuyakini, benarkah namamu Cinta.
Kami Hanya
Kami hanya sekumpulan butir-butir pasir di pantai
Kami hanya setetes embun di dedaunan pagi hari
Kami hanya segumpal awan di langit biru
Kami hanya satu dari sekian ribu
Tapi kami punya hati nurani
Kami punya pikiran sendiri
Kami tahu mana benar, mana yang salah
Kami tak mau tinggal diam
Kami bergerak semampu kami
Sesempit apapun langkah kami
Walau tergerus ombak lautan
Walau teruapkan sinar mentari
Walau terhalang gelap di kala malam
Walau suara kami kecil nyaris tak terdengar
Tapi kami bicara, kami teriak, kami bertindak
Apapun itu, demi tentramnya hati nurani
Secacat apapun itu, kami akan perbaiki
demi bangsa ini, demi bumi pertiwi
dengan cara yang anggun, setahap demi setahap
Tuhan, kuatkan hati nurani kami lebih kuat dari pisau belati !
Kami hanya setetes embun di dedaunan pagi hari
Kami hanya segumpal awan di langit biru
Kami hanya satu dari sekian ribu
Tapi kami punya hati nurani
Kami punya pikiran sendiri
Kami tahu mana benar, mana yang salah
Kami tak mau tinggal diam
Kami bergerak semampu kami
Sesempit apapun langkah kami
Walau tergerus ombak lautan
Walau teruapkan sinar mentari
Walau terhalang gelap di kala malam
Walau suara kami kecil nyaris tak terdengar
Tapi kami bicara, kami teriak, kami bertindak
Apapun itu, demi tentramnya hati nurani
Secacat apapun itu, kami akan perbaiki
demi bangsa ini, demi bumi pertiwi
dengan cara yang anggun, setahap demi setahap
Tuhan, kuatkan hati nurani kami lebih kuat dari pisau belati !
Ramadhan Kita
Semua kita, tahu bahwa Ramadhan menguji kesabaran.
Kesabaran menahan lapar dan haus, itu pasti.
Kesabaran menahan emosi negatif dan berbuat maksiat, itu jelas.
Cukup itukah, kawan?
Wahai para suami,
Sabarlah engkau menghadapi istri2 yang menuntutmu segera pulang
karena di Ramadhan ini ia semangat menyiapkan hidangan istimewa untukmu
Wahai para istri,
Sabarlah engkau jika suamimu pulang terlambat,
karena kemacetan menggila menjelang petang sepulang ia bekerja
Wahai para anak,
Sabarlah engkau jika orangtuamu melarangmu boros,
karena mereka mempersiapkan masa depanmu yang lebih penting
dari sekedar selusin baju lebaran
Wahai para pengendara,
Sabarlah engkau menghadapi padatnya lalu lintas di kala petang,
karena semua orang penuh kasih sayang,
ingin menikmati buka bersama keluarga tercinta
Wahai kawan,
Sesungguhnya Ramadhan mengujikan kita pada kesabaran
atas hal-hal dalam setiap detik kehidupan kita
bukanlah sekedar menahan lapar, dan haus, dan maksiat
karenanya bersabarlah hingga Ramadhan selanjutnya
begitu terus menerus, hingga seolah setiap bulanmu adalah Ramadhanmu.
Amin
Kesabaran menahan lapar dan haus, itu pasti.
Kesabaran menahan emosi negatif dan berbuat maksiat, itu jelas.
Cukup itukah, kawan?
Wahai para suami,
Sabarlah engkau menghadapi istri2 yang menuntutmu segera pulang
karena di Ramadhan ini ia semangat menyiapkan hidangan istimewa untukmu
Wahai para istri,
Sabarlah engkau jika suamimu pulang terlambat,
karena kemacetan menggila menjelang petang sepulang ia bekerja
Wahai para anak,
Sabarlah engkau jika orangtuamu melarangmu boros,
karena mereka mempersiapkan masa depanmu yang lebih penting
dari sekedar selusin baju lebaran
Wahai para pengendara,
Sabarlah engkau menghadapi padatnya lalu lintas di kala petang,
karena semua orang penuh kasih sayang,
ingin menikmati buka bersama keluarga tercinta
Wahai kawan,
Sesungguhnya Ramadhan mengujikan kita pada kesabaran
atas hal-hal dalam setiap detik kehidupan kita
bukanlah sekedar menahan lapar, dan haus, dan maksiat
karenanya bersabarlah hingga Ramadhan selanjutnya
begitu terus menerus, hingga seolah setiap bulanmu adalah Ramadhanmu.
Amin
Langganan:
Komentar (Atom)