Selasa, 28 Februari 2012

Ucapan Terimakasih_2

2. Terimakasih Papa

Ucapan terimakasih selanjutnya aku sampaikan untuk papaku. Ayahanda yang kini berbaring tenang di sisi Nya.

Terimakasih Papa,
karena telah memutuskan menjadi pendamping ibunda sepanjang hayatmu
cinta kalian, melahirkan kami dalam buaian kasih sayang

Terimakasih Papa,
karena telah berjuang menghidupi kami, berkarya sepanjang usiamu,
berjasa pada orang2 yang kau temui.

Terimakasih Papa,
karena ketegasanmu membentuk kekuatan karakter positif kami
keteguhanmu akan tegaknya kejujuran, dan idealisme mu
mendahulukan yang seharusnya, membuat kami malu berbuat dzolim

Terimakasih Papa,
karena telah melimpahkan upayamu untuk membahagiakan kami
menyingkirkan ego-mu untuk sekedar menyenangkan diri sendiri

Yang termanis, papa
terimakasih telah mengukir kisah emas dalam sekejap kebersamaan kita di dunia
tahun2 yang indah dalam masa kecil dan remaja kami
engkau kami simpan dalam hati terdalam,
teladan kami, ayahanda tercinta
semoga Allah melapangkan jalanmu menuju surga
semoga Allah mempertemukan kita kembali di sana.

Amin

Malam ini_110512

Udara panas menyelimuti. Nyamuk mengunjungi. Monitor kedip2 sendiri. Mata minta berhenti. Jari terus menari. Demi siapa? Demi mereka penggunjing sejati? Bukan. Ini demi menghindari penyesalan menenggelamkan diri. Demi melahirkan semangat perbaikan mewujudkan mimpi. Demi nama seharum kasturi, saat waktunya berhenti dari semua hal duniawi, alias mati.
dedicated to : Isal my friend. Thanks for reminding me to produce something using my right brain. Even I don't choose which brain to used to make this. =)

Masa Lalu

Masa kini, adalah nama agar ada yang disebut masa lalu
Masa depan, adalah nama agar ada yang disebut masa kini
Berkali2 kulalui masa lalu, masa kini, masa depan
Tak pernah kurindukan masa lalu serindu diriku malam ini
Apa karena diri ini sudah begitu renta?
Apa karena diri ini tak pernah merenung sebelumnya?
Apa ya?
Begitu rindu hingga kubuka album2 itu
Kurasakan kembali gelora muda yg begitu antusias menjalani hari
Kurasakan kembali persahabatan yg penuh kasih sayang, dan kepedulian
Kurasakan kembali hasrat belajar yg menggebu
Kurasakan kembali kebebasan terbatas yang membahagiakan
Hai masa lalu.
Dosakah jika kurindukan engkau?

Setiap

Setiap kubuka mata, lelapmu menjadi pandangan pertamaku
Setiap kulangkahkan kakiku pergi, tangismu menemani perjalananku
Setiap kukembali, tawamu menghapuskan sejuta penat di bahuku
Setiap kututup mata, senyummu menghiasi mimpiku
dan saat nanti kututup mata yang terakhir kalinya
kuharap engkau pun tetap tersenyum seperti itu
karena senyummu, menentramkan hatiku,
anakku Rakha...

Kepada Cinta (katanya)

Dear Cinta,
Aku panggil kau Cinta, karena katanya itulah namamu.
Saat kutanyakan kenapa namamu Cinta, katanya begitulah Cinta dinamai
Saat kutanyakan kapan kau dinamai Cinta, katanya sejak kau hadir di hidupku
Saat kutanyakan kenapa kau hadir di hidupku, katanya karena aku dianugerahi
Saat kutanyakan layakkah aku dianugerahi, katanya karena akulah yg meminta
Saat kutanyakan bagaimana kutahu kaulah jawaban dari permintaanku,
katanya karena hanya Cinta-lah yang datang padaku di saat ku memintanya.
Sampai kini, masih banyak pertanyaan dariku untuk Nya.
Masih banyak yang belum kupahami jawabannya.
Bagaimanapun, harus kupelihara apa yg sudah (katanya) dianugerahi untukku.
Baiklah, karena kalau tidak, mungkin aku jadi durhaka
Karena tak mensyukuri anugerahNya
Walau masih tak kuyakini, benarkah namamu Cinta.

Kami Hanya

Kami hanya sekumpulan butir-butir pasir di pantai
Kami hanya setetes embun di dedaunan pagi hari
Kami hanya segumpal awan di langit biru
Kami hanya satu dari sekian ribu
Tapi kami punya hati nurani
Kami punya pikiran sendiri
Kami tahu mana benar, mana yang salah
Kami tak mau tinggal diam
Kami bergerak semampu kami
Sesempit apapun langkah kami
Walau tergerus ombak lautan
Walau teruapkan sinar mentari
Walau terhalang gelap di kala malam
Walau suara kami kecil nyaris tak terdengar
Tapi kami bicara, kami teriak, kami bertindak
Apapun itu, demi tentramnya hati nurani
Secacat apapun itu, kami akan perbaiki
demi bangsa ini, demi bumi pertiwi
dengan cara yang anggun, setahap demi setahap
Tuhan, kuatkan hati nurani kami lebih kuat dari pisau belati !

Ramadhan Kita

Semua kita, tahu bahwa Ramadhan menguji kesabaran.
Kesabaran menahan lapar dan haus, itu pasti.
Kesabaran menahan emosi negatif dan berbuat maksiat, itu jelas.
Cukup itukah, kawan?

Wahai para suami,
Sabarlah engkau menghadapi istri2 yang menuntutmu segera pulang
karena di Ramadhan ini ia semangat menyiapkan hidangan istimewa untukmu
Wahai para istri,
Sabarlah engkau jika suamimu pulang terlambat,
karena kemacetan menggila menjelang petang sepulang ia bekerja
Wahai para anak,
Sabarlah engkau jika orangtuamu melarangmu boros,
karena mereka mempersiapkan masa depanmu yang lebih penting
dari sekedar selusin baju lebaran
Wahai para pengendara,
Sabarlah engkau menghadapi padatnya lalu lintas di kala petang,
karena semua orang penuh kasih sayang,
ingin menikmati buka bersama keluarga tercinta

Wahai kawan,
Sesungguhnya Ramadhan mengujikan kita pada kesabaran
atas hal-hal dalam setiap detik kehidupan kita
bukanlah sekedar menahan lapar, dan haus, dan maksiat
karenanya bersabarlah hingga Ramadhan selanjutnya
begitu terus menerus, hingga seolah setiap bulanmu adalah Ramadhanmu.
Amin