Senin, 22 Oktober 2012

Petualangan Beasiswa Monbusho 1 (Kenapa saya HARUS studi lanjut di Luar Negeri)


Judulnya mungkin sebetulnya kurang tepat, pakai angka 1. Karena kaitan dengan perjuangan memperoleh beasiswa ini sudah pernah aku posting sebelumnya. Nanti rencananya mau dibuat dua versi bahasa, Indonesia dan Inggris. Supaya tulisan ini bisa dimengerti non bahasa Indonesia'ers. =p (Caileeee kayak bakal sempat aja gkgkgk).

Sebetulnya cerita perjuangan beasiswa ini mirip skenario film bagi saya. It's so unpredictable, amazing scenario by God. Diawali dari ambisi "lebay" oleh seorang anak kampung dengan keterbatasan finansial yg belum pernah ke luar negri,  yang bahasa inggrisnya pas2an, prestasi juga ga tinggi2 amat, apalagi scientific skill alias kualitas otak kayanya standar tapi ngotot pengen dapet beasiswa sekolah di luar negri. Motivasinya banyak (termasuk pengalaman global, tantangan yang lebih tinggi, networking, dll), tapi satu yang utama :
Karena sekolah master di dalam negri, walaupun dengan beasiswa, akan menambah pengeluaran. Kenapa?

Karena beasiswa dalam negri sejauh ini rata2 hanya mencakup biaya sekolah dan sedikit untuk biaya hidup. Sedangkan kuliah dan pertemuan2 dgn dosen pembimbing itu perlu ongkos, perlu biaya susun thesis, apalagi dana alat dan bahan laboratorium (berhubung bidang saya sains) yang tentu jauh dibanding biaya hidup yang diberikan dari beasiswa dagri.

Sedangkan kemudian sebagai aparatur sipil negara (nama baru dari PNS), saya sebagai student hanya akan menerima gaji pokok, alias tidak aktif bekerja sehingga tunjangan2 atau honor proyek tidak bisa saya terima (tp kabarnya ini sedang diperdebatkan (*untuk remunerasi)). Artinya, malah menjadi tantangan finansial bagi saya, dan itu tampak berat. Sehingga, sekolah di LN yang ditunjang penuh oleh beasiswa memungkinkan saya bisa membiaya kuliah, hidup saya, tanpa mengganggu penghasilan saya yang bisa saya alokasikan untuk biaya anak saya. Jadi alasan paling mendasar, adalah .. yes, tidak akan saya pungkiri adalah : financial. Tentu, alasan ini tidak akan begitu kuat membuat saya bertahan berjuang memperoleh beasiswa selama 2 tahun ini, jika tidak didukung alasan2 lain yang juga penting bagi saya.

Lalu, kalau kemudian saya ditanya lagi : Kenapa saya harus studi lanjut? Sedangkan saya seorang ibu yang resikonya harus meninggalkan anak saat studi, sedangkan sekolah tidak menjamin kesuksesan? Ini juga jelas ada alasannya. Karena saya mau berkembang. Saya mau hidup saya semakin lebih baik dari hari ke hari. Artinya? salahsatunya adalah karir saya. Karir saya di dunia engineering, sains, dimana pekerjaan memerlukan skill, knowledge, untuk mencapai prestasi lebih baik. Kenapa "sok" pengen berkarir baik begitu? Karena suksesnya saya bukan semata untuk saya. Tapi untuk saya persembahkan untuk ibu saya, untuk menyokong beliau dengan lebih baik. Untuk masa depan anak saya. Menyiapkan dan menumbuhkan ia dengan sebaik2nya keadaan.

Dalam karir saya, untuk mengembangkan project2, kerjasama dengan berbagai pihak, sudah saya rasakan betul, basic ilmu saya sebagai sarjana belum memadai. Yup, saya bukan tipe super yang bisa upgrade diri saya begitu saja seperti sulap, tanpa sekolah. Saya percaya sekolah akan memberi saya ilmu, networking, dan skill yang kelak akan berguna. Boleh kan, optimis?

Lalu alasan yang sangat pribadi, yang debatable mungkin. Motivasi kuat saya (yang sering menjadi motivasi saya sejak kecil), adalah membuktikan pada keluarga besar, bahwa saya berhasil mencapai suatu prestasi. Saya, anak yatim sejak umur 9 tahun, yang membiayai sekolah dari bantuan orang2 dan hasil jualan minyak tanah, dan hasil kerja ibu saya sebagai asisten perias pengantin, dan pensiun papa yang tentu terbatas jumlahnya. Saya, yang tidak mengenyam nikmatnya hidup berkecukupan, yang baru tahu nikmatnya kasur dan AC hotel berbintang hanya kalau diajak nginap oleh sanak saudara ibu saya. Yang naik mobil pribadi itu hanya kalau numpang orang lain, itupun joknya sering saya elus2 saking kagumnya. Yang tinggal di rumah petak 2 kamar bersama ibu dan 2 kakak laki2 saya. Yang bukan anak siapa2 atau ponakan siapa2 sehingga memperoleh fasilitas karenanya. Tapi saya maju, saya sekolah dan berusaha menjadi anak baik. Jadi orang baik. Berprestasi sebaik2nya sesuai jalur saya berada. Saya ingin selalu buktikan dan buktikan terus bahwa saya dari keluarga yang sering dipandang sebelah mata karena keterbatasan kami, mampu membelalakkan mata karena mencapai sesuatu yang baik. Yang bahkan tidak/belum dicapai orang yang keadaannya lebih baik dari saya di awalnya.

"Saya ingin selalu tunjukkan bahwa keterbatasan saya tidak membatasi saya."  

by Syaftika, 22 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar