Senin, 18 Februari 2013

Petualangan Beasiswa Monbusho (dari seleksi ke seleksi)

Rasanya tidak terlalu lama setelah submit berkas, keluar pengumuman siapa2 saja yang lolos seleksi tahap 1 dan dipanggil ujian tulis. Saya alhamdulillah menemukan nama saya diantara orang2 yg lolos tsb (100an orang). Dari berkali2 saya apply beasiswa sblmnya, baru 1 x saya masuk tahap semifinal (Beasiswa Ajinomoto), yg lainnya (Fullbright, DAAD (2x lho)) hanya sampai administrasi, sudah out. hehehe

Saya pelajari soal2 ujian tulis tahun2 sebelumnya, dan kebingungan membaca karakter tulisan jepang. Alhamdulillah karena bahasa jepang bukan sebuah keharusan (bukan syarat) jadi saya bisa fokus di tes bahasa inggrisnya. Tapi, tes bahasa jepang ttp harus ikut lho.. Isi nama, dan coba kerjakan sebisa mgkn saja dulu. Nanti akan diambil nilai yg tertinggi.

Saya ikut ujian tulis di UI Depok. Kebetulan reuni sama teman yg kenalan waktu apply beasiswa Ajinomoto. Ujiannya kayak SNMPTN atau mirip2 tes CPNS lah gitu. Di ruangan auditorium, rame2. Ujiannya pagi sampai siang saja. Contoh soal bisa didownload di web kedubes. Hehehe

Setelah tes, saya banyakin doaaaaa supaya bisa lolos tahap selanjutnya, tahap terberat menurut saya, yi wawancara.. Alhamdulillah, diantara 90 orang yg masuk wawancara, saya juga jadi salahsatunya.

Posting tentang wawancara, nanti tersendiri ya.. Banyak deh yg mau disampein.. :)

Petualangan Beasiswa Monbusho (Aplikasi termin 2013 - CHANGE !)

Setelah berhasil punya dua calon spv (Prof JM dan Prof YM), saya semangat menyiapkan berkas lainnya. Yang paling perlu waktu panjang adalah, Field of Study alias rencana riset saya kelak di program Master. Yang ini saya diskusikan dengan calon spv, lalu menyusun proposalnya dgn versi saya sendiri. Topik riset ini sebetulnya untuk menunjukkan kematangan persiapan qta, karena nantinya di Jepang, topik riset ini sebetulnya bisa berubah disesuaikan dgn hasil diskusi dgn sensei kita. Tapi, gmnpun topik ini harus tajam, jelas apa urgensinya, manfaatnya, dll. Oh ya, bagian yg penting juga adalah perencanaan studi qta. Misalnya, dalam 2 tahun master itu mau ngapain aja. Buatlah dalam bentuk tabel, terinci per bulan2nya mempelajari apa, dan apa, riset selesai kapan, sidang kapan, in general. Nah yg begini2 nih, belajar lah dari blog para scholar, atau tanya langsung ke mereka. :)

Persiapan lainnya yang agak perlu waktu adalah terjemahan ijazah dan transkrip (ke bhs inggris). Oh iya ! saya sampai lupa ! TOEFL guys... !!! TOEFL adalah hal pertama yg paling saya concern saat memutuskan ingin apply beasiswa luar negri. Terakhir tes TOEFL, skor saya bikin saya cemberut (th 2010). Saat itu saya tes TOEFL ITP bersama teman sya, karena mau apply FULLBRIGHT (beasiswa Amerika). (Nah kan makin jelas kalau perjuangan beasiswa saya bukan "instant" hehe, tapi bertahun2 dari beasiswa satu ke lainnya, dengan segala kisahny) Jadi, yg masih berjuang dan sudah berkali2 gagal, jgn menyerah ! selama keinginan itu mmg penting, pentingkanlah semua hal untuk mempersiapkan dan memperjuangkannya. :)

Pertama kali tes TOEFL waktu Fullbright itu, saya bertekad ! TOEFL saya harus menembus 550 sbagai syarat paling umum (amerika dan inggris biasanya lebih tinggi). Sejak itu saya autodidak TOEFL dari buku Cliff. Saya tes lagi, alhamdulillah skornya naik (tp belum tembus 550). Akhir th 2011 saya putuskan join les TOEFL IBT di Lembaga Bahasa UI di Depok, alhamdulillah skor saya tembus lewat 550 !. Saya puas sekali ! Oh iya, les itu tidak mutlak. Yg saya butuhkan saat itu adalah, konsistensi. Dengan les, saya jadi lebih disiplin dan fokus belajar. :)

Karena pengalaman berantakannya berkas saya di tahun 2010 dan 2011, saya bertekad kali ini harus JAUH lebih baik ! Saking semangatnya, dan sebagai permintaan maaf pada kedubes yg mgkn bete liat berkas saya tahun2 lalu, saya buat seCANTIK mungkin ! Secantik saya lah minimal ! XD. Saya cetak bukan di kertas biasa, tapi di kertas bertekstur dan berwarna (kertas jeruk) yg tidak terlalu tebal. Saya klip pakai klip besar yang warna warni, tiap warna menunjukkan perbedaan berkas (berkas bikin triplo kl ga salah). Selain itu, amplop surat rekomendasi juga saya pilih yg warna2 pastel, amplop besarnya juga yang berwarna ! Dandan Habis pokoknya ! XD. 

Saat menyerahkan berkas itu ke bag pendidikan kedubes (kali ini diterima dengan baik di lantai 2 karena masih 3 hari sebelum deadline), saya tersenyum lebar. Padahal saya belum lulus, tapi saya bahagia karena saya telah melalui proses, dan saya berubah lebih baik dalam aplikasi kali ini. JAUH ! Saat itu saya sudah puas, sebelum saya lulus.. saya pasrah terhadap hasil seleksinya.. saya percaya, kalaupun ngga lolos, saya tetap senang karena saya telah melalui 2 tahun prosesnya, dapat TOEFL dengan skor "aman", dan pengalaman menyiapkan berkas ini itu, rencana riset, yg saya tahu bukan hal yg sia sia.. 

Petualangan Beasiswa Monbusho (Saya Mendua !)

Sebelum masuk ke cerita, saya jelasin dulu, bahwa saya tidak akan banyak memberikan detail formil seperti list berkas, dll. Selain karena saya ga inget persis, hehe. Informasi ttg persyaratan, berkas, prosedur, sudah ada di web Kedubes, juga di blog-blog monbusho scholar lainnya. Tinggal googling deh. Kalau ada hal2 yg kurang jelas, silakan tanya mgkn saya bisa bantu bdsk pengalaman (sok seolah blognya banyak yg baca X_X). Kenapa saya prefer begitu? Karena sharing kisah yg personal, menurut saya lebih menginspirasi dan memotivasi.. Karena info detil formil sudah banyak dimana2, sya berharap bisa sumbangsih di cerita versi saya. Menunjukkan bahwa, yg saya jalani juga bukan dgn satu jentikan jari, tapi ada prosesnya, dan semua orang bisa kalau bersedia melalui proses itu.. tentu dgn kuasa Tuhan.

Di proses aplikasi saya yg ketiga kalinya ini, selain sudah mempelajari prosedur, berkas2 yg dibutuhkan, dll saya menyiapkan satu hal yg penting dalam beasiswa Jepang, yaitu calon supervisor.

Karena saya sudah ada link dengan Prof JM dari Osaka, yang saya cerita di cerita sebelumnya, saya hubungi beliau sebagai orang pertama yg saya mohon untuk jadi calon supervisor (spv) saya, karena saya mau apply monbusho. Alhamdulillah dengan mudah beliau welcome.

Karena saya sadar bahwa calon spv sebaiknya tidak hanya 1 (dan saya baca di blog mmg kedubes memberikan 3 slot), saya cari calon spv lainnya. Sembari liat2 profil para profesor yg bikin saya selalu bilang "wow" itu, saya kebetulan menerima email dari teman saya (namanya AM), orang Jepang. Dia mengabari bahwa dia pindah kantor. Dari tadinya di sebuah lembaga riset, ke sebuah universitas. Saya mengucapkan selamat dan mendoakan dia sukses, sambil iseng2 saya tanya, kira2 di univ dia, ada ga prof yg cocok sama bidang saya (bioenergi). Alih2 menjawab email saya, kucuk2 malah masuk email dari seorang Prof YM. Saya terkejut luarbiasa, beliau katanya dikabari teman saya japanese itu bahwa saya nyari spv dan dia dengan senang hati bersedia. Wow.. ini yg saya bilang, kuasa Tuhan diatas segala kekuatan apapun. Lagi2 saya surprise "diberikan" calon spv dgn cara begini. Saya kira awalnya saya yg akan menghub beliau. Yang bikin saya lebih surprise lagi adalah, saat saya baca baik2 namanya, Prof YM, saya baru sadar, beliau adalah orang yg saya kagumi waktu di HaNoi, Vietnam. Waktu itu, ada seorang Prof muda, yg staminanya stabil sekali dari awal sampai akhir sesi, stand by selalu duduk paling depan, saat kunjungan ke factory, stand by selalu jadi barisan terdepan dan banyak nanya sama guidenya... Yang selalu dengan antusias menyimak semua presentasi dan jawaban dari para presenter.. Saking kagumnya, saya ga berani ngajak ngobrol dan kenalan.. hehehe. Udah jiper duluan, lagian saya pikir mau ngomong apa saya kalo ngobrol sama Prof genius seperti itu. Bumi ka langit, kata orang sunda. Lebay. ~_~

Disisi satu senang karena dapat 2 calon spv dgn "cara" yg ga diduga2, di sisi lain, bingung krna sebaiknya lapor kan sama Prof yg pertama, bahwa dia bukan satu2nya. Jiah.... kurang ajar ya saya.. maaf sensei.. tapi yang membuat saya lega adalah, karena nantinya, yg menentukan siapa spv saya adalah, Monbusho, bukan saya. Jadi, saya dan dua orang Prof luarbiasa ini, terima jadi. Hehehe.

Jadi, semua ini karena kebetulan dan keberuntungan semata? Eits, baca dulu posting berikutnya. :)


Petualangan Beasiswa Monbusho (3x aplikasi)

Setelah 4 posting nan panjang tentang hunting profesor, saya mau lanjut cerita petualangan beasiswa monbusho saya nih. Sabar ya yg baca, karena semangat jadi tulisannya susah disedikitin. :p

Sebelum lanjut ttg hunting profesor, saya cerita dulu, bahwa sebetulnya perjuangan memperoleh beasiswa monbusho ini bukan 1 kali saja saya jalani. Saya apply 3x, termin 2011, 2012, 2013. Hohoho. Perjuangan yang pertama, masih newbie, masih asal2an seolah2 dpt beasiswa itu seperti undian berhadiah. Tidak disiapkan jauh2 hari, pas deadline baru inget dan gradak gruduk nyiapin berkas. Dikirim via kurir, dgn ongkos mahal karena maunya sampai hari itu juga, dengan amplop seadanya, isi juga berantakan. Rekomendasi juga dadakan "nodong" atasan. Masih mendingnya, rekomendasi supervisor kampus udah sempat dibuat seminggu sebelumnya. Itupun "nodong" supervisorku Dr RS yang kebetulan ada event di Jakarta. Alhamdulillah beliau bersedia.

Apply yg kedua termin th 2012 (artinya proses apply di tahun 2011), saya gagal mengubah diri saya lebih disiplin menyiapkan semuanya. Saya menunda2 hingga (lagi2) baru sadar menjelang deadline. Sempat ragu untuk apply, tapi kemudian nekad. Nekad bener2 nekad, karena setelah semua berkas saya masukin amplop (agak disusun rapi sesuai list, tp masih asal2an), saya pun lari ke kedubes, ngos2an karena tinggal 10 menit lagi sebelum jam 4 sore hari terakhir deadline. Oh ya, saya secara beruntung berkantor tetanggaan dengan Kedubes Jepang (10 menit jogging). Herannya, sudah dikasih kemudahan dekat begini, masih saja kacau balau aplikasinya. Dengan keringat banjir, ngomong ngos2an, saya menghadap satpam kedubes yg waktu itu sudah menghadang (spertinya sudah berkali2 menolak pelamar beasiswa yg ingin masuk). Saya keukeuh (sambil melas) menunjukkan "masih jam 4 krg 1 menit, pak, pleasee..." (pasang muka anak kucing minta makan).  Akhirnya sang satpam berbaik hati dititipi berkas saya untuk diserahkan ke bagian Pendidikan, karena bagian pendidikan sudah ga bisa terima berkas scr lgsg lagi (ya iyalah, udah jam 4). X_X

Apply yg ketiga termin th 2013 (proses apply th 2012), dgn pengalaman aplikasi sebelumnya yg kacau balau, saya sadar dan malu akan kebiasaan saya menunda2 persiapan. Sejak akhir th 2011, saya mempelajari beasiswa monbusho, dan beasiswa lainnya. Saya kumpul informasi sebanyak2nya. Baca blog para scholar hunter, mempelajari sistem2 beasswa (waktu dulu, membedakan erasmus mundus dengan beasiswa eropa lainya saja saya bingung). Bagian terpenting dari masa ini menurut saya, yaitu mempelajari sistem beasiswa, dan membaca sebanyak2nya kisah sukses para scholar. Membaca dan melihat foto2 mereka, prestasi2 mereka, bikin ngiler. Ini membuat saya konsisten terus mengumpulkan informasi. Saya bahkan punya folder khusus setiap beasiswa. Lengkap dengan jurusan, fakultas dan univ yg ditargetkan. Khusus untuk Jepang, saya sampai punya berbelas2 daftar profile profesor di bidang saya. Oh iya, yg juga efektif adalah, minta kenalan sama senior yg sudah berhasil dpt beasiswa. Alhamdulillah, dari semua yg saya hubungi, semuanya ramah dan senang hati sharing, chatting, email2an.. Mereka semangat berbagi pengalaman, seperti halnya saya saat ini menulis posting ini. :)

Oh ya, ikutan event2 pameran beasiswa juga rajin saya ikuti. Selain senang karena biasanya dapet souvenir goody bag, ballpoint (hadeuh penting ga tuh), saya senang baca2 informasi beasiswa disana, dan nanya2 sama pihak universitas. Nah kalau di event begini, nanya2 sama alumni / senior yg sudah dapet beasiswa menurut saya agak kurang nyaman. Kenapa? Karena rame banget, rebutan sama pengunjung lain, dan biasanya sang senior udah kecapean jawab. Hehehehe. Salut tp mereka ttp mau berbagi. :)