Setelah 4 posting nan panjang tentang hunting profesor, saya mau lanjut cerita petualangan beasiswa monbusho saya nih. Sabar ya yg baca, karena semangat jadi tulisannya susah disedikitin. :p
Sebelum lanjut ttg hunting profesor, saya cerita dulu, bahwa sebetulnya perjuangan memperoleh beasiswa monbusho ini bukan 1 kali saja saya jalani. Saya apply 3x, termin 2011, 2012, 2013. Hohoho. Perjuangan yang pertama, masih newbie, masih asal2an seolah2 dpt beasiswa itu seperti undian berhadiah. Tidak disiapkan jauh2 hari, pas deadline baru inget dan gradak gruduk nyiapin berkas. Dikirim via kurir, dgn ongkos mahal karena maunya sampai hari itu juga, dengan amplop seadanya, isi juga berantakan. Rekomendasi juga dadakan "nodong" atasan. Masih mendingnya, rekomendasi supervisor kampus udah sempat dibuat seminggu sebelumnya. Itupun "nodong" supervisorku Dr RS yang kebetulan ada event di Jakarta. Alhamdulillah beliau bersedia.
Apply yg kedua termin th 2012 (artinya proses apply di tahun 2011), saya gagal mengubah diri saya lebih disiplin menyiapkan semuanya. Saya menunda2 hingga (lagi2) baru sadar menjelang deadline. Sempat ragu untuk apply, tapi kemudian nekad. Nekad bener2 nekad, karena setelah semua berkas saya masukin amplop (agak disusun rapi sesuai list, tp masih asal2an), saya pun lari ke kedubes, ngos2an karena tinggal 10 menit lagi sebelum jam 4 sore hari terakhir deadline. Oh ya, saya secara beruntung berkantor tetanggaan dengan Kedubes Jepang (10 menit jogging). Herannya, sudah dikasih kemudahan dekat begini, masih saja kacau balau aplikasinya. Dengan keringat banjir, ngomong ngos2an, saya menghadap satpam kedubes yg waktu itu sudah menghadang (spertinya sudah berkali2 menolak pelamar beasiswa yg ingin masuk). Saya keukeuh (sambil melas) menunjukkan "masih jam 4 krg 1 menit, pak, pleasee..." (pasang muka anak kucing minta makan). Akhirnya sang satpam berbaik hati dititipi berkas saya untuk diserahkan ke bagian Pendidikan, karena bagian pendidikan sudah ga bisa terima berkas scr lgsg lagi (ya iyalah, udah jam 4). X_X
Apply yg ketiga termin th 2013 (proses apply th 2012), dgn pengalaman aplikasi sebelumnya yg kacau balau, saya sadar dan malu akan kebiasaan saya menunda2 persiapan. Sejak akhir th 2011, saya mempelajari beasiswa monbusho, dan beasiswa lainnya. Saya kumpul informasi sebanyak2nya. Baca blog para scholar hunter, mempelajari sistem2 beasswa (waktu dulu, membedakan erasmus mundus dengan beasiswa eropa lainya saja saya bingung). Bagian terpenting dari masa ini menurut saya, yaitu mempelajari sistem beasiswa, dan membaca sebanyak2nya kisah sukses para scholar. Membaca dan melihat foto2 mereka, prestasi2 mereka, bikin ngiler. Ini membuat saya konsisten terus mengumpulkan informasi. Saya bahkan punya folder khusus setiap beasiswa. Lengkap dengan jurusan, fakultas dan univ yg ditargetkan. Khusus untuk Jepang, saya sampai punya berbelas2 daftar profile profesor di bidang saya. Oh iya, yg juga efektif adalah, minta kenalan sama senior yg sudah berhasil dpt beasiswa. Alhamdulillah, dari semua yg saya hubungi, semuanya ramah dan senang hati sharing, chatting, email2an.. Mereka semangat berbagi pengalaman, seperti halnya saya saat ini menulis posting ini. :)
Oh ya, ikutan event2 pameran beasiswa juga rajin saya ikuti. Selain senang karena biasanya dapet souvenir goody bag, ballpoint (hadeuh penting ga tuh), saya senang baca2 informasi beasiswa disana, dan nanya2 sama pihak universitas. Nah kalau di event begini, nanya2 sama alumni / senior yg sudah dapet beasiswa menurut saya agak kurang nyaman. Kenapa? Karena rame banget, rebutan sama pengunjung lain, dan biasanya sang senior udah kecapean jawab. Hehehehe. Salut tp mereka ttp mau berbagi. :)
kalo baca perjuangan mpie jadi bikin jiper...
BalasHapusbelum sampe seperti itu ikhtiyarnya :(