Senin malam, 7 Maret 2011, jam 11.
Seperti biasa hampir setiap malam, saya menatap layar Lenovo saya yg sudah butek.
Lenovo inilah yang menemani hari2 saya bekerja, menulis, facebookan, dan kerjaan2 online lainnya.
Lenovo ini saksi bisu apa yang saya kerjakan di dunia online.
Seringkali dia senang kalau saya menggunakannya untuk belajar atau menyelesaikan PR dari kantor. Tapi dia sering jengkel kalau saya malah chatting atau tenggelam dalam Facebook.
Lenovo ini juga sudah sering saya marahi. Saya otak-atik supaya kinerja nya cepat. Padahal mungkin dia lagi bete aja, karena tombol keyboardnya dicungkil2 Rakha, dan layar LCD nya kedap kedip bikin sakit mata.
Lenovo ini sudah pernah ketumpahan susu Rakha, ketumpahan nasi, air putih dan lain2nya yang sering kami santap sambil menggerayangi tubuhnya.
Lenovo ini sudah menemani saya ke berbagai tempat di Indonesia, bahkan ke pelosok desa di Sumatera Utara. Selama 8 hari di perjalanan, dia saya dekam di dalam ransel, yang diombang ambing di dalam panther, yang saya pakai untuk menjelajah kampung halaman saya itu. Sudah pernah mencapai lokasi 15 jam dari kota Medan, sudah pernah mencapai Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Sulawesi Selatan juga sudah pernah ia kunjungi. Ia sering protes karena lelah dengan perjalanan. Tapi ia malah sering saya caci maki saat wifi nya ngadat padahal saya darurat kirim laporan dari pulau non jawa itu.
Lenovo ini belum saya partisi, sampai detik ini. Padahal tiap hari saya was2 takut data di C itu hilang begitu saja saat dia sakit parah. Malam ini, proses partisi saya tunda karena gemas dengan file2 usang yang tak dipakai. Jadinya waktu saya habis hanya untuk singkirkan file2 itu.
Kenapa ya, malam ini saya malah menulis tentang Lenovo saya?
Entahlah, yg pasti saya ingin tetap melahirkan karya untuk saya pajang di blog ini.
Menarik atau tidak, saya tak terlalu peduli.
Lenovo ini sebenarnya baik sekali. Tapi saya jenuh lihat bodinya yg sudah usang, lihat tombolnya yang belepotan selotip, dengar suara kreket kretek saat saya buka layarnya. Bete dengan kinerjanya yg sering lemot yg entah kenapa. Padahal mungkin salah saya sendiri yang merawatnya dengan asal2an. Membawanya ke medan perang, tanpa melindunginya dengan baik. Saya simpan begitu saja dalam ransel, tanpa penyangga atau softcase sekalipun.
Lenovo ini mungkin bukti Kekerasan Terhadap Laptop Pribadi (KTLP), dan saya pelakunya. Ini bentuk kekurangajaran saya yang tidak bersyukur, yang menghujat sesuatu karena keburukannya, padahal sayalah pencipta keburukan itu. Saat dia sudah usang, kumal, lecek, dan butek, saya berhasrat sekali mengganti ia dengan yang lain. Padahal dulu di awal saya begitu menginginkannya.
Semoga saya ngga kena hukum karma.
Lenovo, Love Novi ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar